Kudeta Kopi, Tempat Nongkrong Kaum Kiri?

Kudeta Kopi, Tempat Nongkrong Kaum Kiri?

Tahtanews.com – Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) terdapat banyak warung kopi (warkop) atau caffee dengan berbagai ciri khas tampilan dan gaya penyajian.

Diantara banyaknya warkop, ada 1 tempat yang terbilang unik, terlihat dari nama dan tampilannya.

Kudeta Kopi nama warkopnya. Saat berada pada halaman teras, kita serasa d!tatap oleh beberapa aktivis kiri, seperti Widji Thukul, Marsinah dan Munir.

Kudeta Kopi berdiri di sekitar pasar Sungai Saren, Desa Bramitam Kecamatan Bramitam, atau di Jl. Lintas Jambi – Kuala Tungkal. Kudeta Kopi berusia 6 bulan, yang didirikan oleh pasangan suami istri.

Pada Sabtu, (18/09/21) jurnalis dari Tahtanews.com melakukan perbincangan dengan salah seorang pemilik Kudeta Kopi, Ismi yang merupakan istri dari pemilik warkop tersebut.

Ia mengatakan bahwa hanya dua jenis kopi yang menjadi prioritas warkopnya, yaitu robusta dan arabika.

Ismi beralasan, karena dua jenis kopi tersebut berasal dari tanah tempat tinggalnya di Pemalang (Jawa Tengah).

Kami tidak meracik kopi lokal atau kopi liberika, karena awal mula kami belajar kopi di tempat kami daerah jawa, yaitu robusta dan arabika. Alasannya supaya tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya, dan juga karena belum terlalu bisa mengulik liberika,” kata Ismi.

Ismi menjelaskan bahwa ia sudah belajar meracik kopi di daerah asalnya selama 2 tahun, dan berniat menyebarluaskannya.

Selama dua tahun belajar meracik kopi d!sana. Yah sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat,” jelasnya.

Alasan Memilih Nama Warkop Dan Memajang Gambar Aktivis Kiri

Setelah menjelaskan persoalan warung dan pembuatan kopi, Ismi lalu menjelaskan alasan kenapa warkopnya bernama “Kudeta Kopi“.

Penamaan kudeta karena agar kita semua tidak mudah di kudeta oleh apapun. Dan di tambahkan menjadi kudeta kopi institute karena terinspirasi dari salah seorang pembuat film yang berjudul “Sokola Rimba”. Skenario film tersebut mengisahkan pendidikan kepada Suku Anak Dalam (SAD) karena sebelumnya terjadi perampasan lahan kepada suku pedalaman yang d!akukan oleh mafia. maka d!berikan lah pendidikan kepada SAD agar tidak terulang kembali fenomena itu dan berharap bisa membuat ruang bermanfaat seperti itu juga,” terang Ismi.

Baca Juga :  Menjelang Lebaran! Masyarakat Parit 3 Membuat Makanan Khas Bugis

Kemudian Ismi menjelaskan kenapa memajang gambar Widji Thukul, Marsinah, dan Munir tepat pada teras warkop.

Ya agar kita selalu ingat sejarah bahwa ada sosok Pahlawan Revolusioner dengan lantang berdiri membela Hak Asasi Manusia (HAM) d!tengah-tengah carut marutnya kondisi politik kala itu,” jelas Ismi.

Kegiatan Mingguan Kudeta Kopi

Selain persoalan nama warung, kopi dan gambar aktivis kiri, Kudeta Kopi rupanya memiliki aktivitas sosial satu kali dalam seminggu.

Ismi mengatakan bahwa warkopnya memiliki kegiatan mingguan. Pada hari kamis (malam Jum’at) yang biasa disebut aksi kamisan dengan agenda nonton bareng dan aksi sosial pada sore harinya.

Setiap kamis, malam jumat kami membuat agenda kamisan, seperti nonton bareng film sejarah perjuangan dan lain sebagainya, serta siang harinya aksi sosial bagi-bagi nasi bungkus,” kata Ismi.

Ia berharap kepada pebisnis kopi, terutama kepada pemilik warkop atau kedai kopi yang berada di daerah Kuala tungkal, selalu menyajikan kopi dengan tulus.

Saya beraharap khususnya kepada penampung dan pembisnis kopi, agar saling sama-sama membantu para petani kopi menjadi sejahtera,” harap Ismi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.